Profil


Melihat dari kesejarahannya sudah sepantasnya dalem Djimatan dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat sebagaimana dahulunya Kyai Ageng Henies mengabdikan dirinya untuk masyarakat Laweyan sehingga masyarakatnya menjadi makmur sejahtera karena wilayahnya menjadi Perdikan berkat Kyai Ageng Henies (sebagai catatan: tanah perdikan adalah tanah yang diberikan raja kepada orang yang dihormati atau orang yang sangat berjasa kepada kerajaan. Sebagai imbalannya seluruh penghuni tanah tersebut tidak diwajibkan membayar pajak bumi, bangunan, dan hasilnya kepada raja).

Bermula dari perjalanan pemerintahan paku Buwana XI Keraton mengalami kekurangan biaya arena belanda mulai mengadakan peraturan terhadap daerah mancanegara, yaitu mulai menyewakan tanah kepada tuan tanah belanda. Raja hanya digaji. Maka beberapa rumah dinas milik Keraton mulai dilelang. Dalem Djimatan salah satunya. Pada saat lelang yang menang adalah istri lurah dari Badongan yang bernama Karyowijaya. Dan sampai saat sekarang dalem Djimatan tetap menjadi rumah keluarga tersebut.

Keturunan Karyowijaya, sebagai ahli waris yaitu Keluarga Priyomarsono bersama UNIBA Surakarta bekerjasama melakukan pengembangan kemanfaatan Dalem Djimatan untuk masyarakat, sebagai salah satu motor penggerak berdirinya “Kampung Batik Laweyan”, diantaranya bidang:  
- Pendidikan, melalui Taman Bacaan “Priyomarsono”
- Seni budaya, melalui pelatihan kursus gamelan, tarian,seni peran dll
- Pengembangan Radio (kerjasama radio rama )
- Laboratorium Perbatikan , dll

Atas ditetapkannya keputusan Walikota Surakarta melalui SK Walikota No. PM.03/PW.007/MKP/2010 telah menjadikan Laweyan Sebagai Kawasan cagar budaya, maka hal ini manjadi bagian dari penguatan atas pengukuhan kampung Laweyan sebagai “Kampung Batik Laweyan”

Untuk selanjutnya pada tahun 2016 awal bulan Agustus, ditetapkan Dalem Djimatan sebagai Pusat Majelis Pengembangan Budaya dan Pemberdayaan Teknologi Informasi, yang cakupannya akan lebih luas dan dapat mengakomodasi penguatan pilar-pilar ekonomi sosial dan budaya, termasuk didalamnya terdapat upaya "nguri-uri" budaya Nusantara yang kental dengan makna Religius ke-Islaman.